Jumat, 09 Januari 2009

@Yusuf Mansyur: Berdakwah Lewat Kisah Sedekah

Muda, terkenal, sukses dan ulama pula. Pahir perjalanan hidup mengantar dia menjadi seperti sekarang. Ustadz Yusuf Mansur, tak ingin shaleh sendirian. Lewat Wisata Hati, dia mengajak semua umat untuk berbagi (sedekah) dengan mereka yang kesulitan dengan berbagai media dakwah verbal, buku, sinetron, dan film . Ajakannya seolah menjadi sebuah gerakan mulia mencontoh Rasulullah SAW. Atas itu, Yusuf Mansur menjadi salah satu Tokoh Perubahan Republika 2007.

Dia menganggap pengalaman hidup yang pahit ada dua makna, ujian atau azab. Jika itu azab, maka andai sulit diatasi selama bertahun-tahun, jawabannya adalah taubat yang suci dan ikhlas. Tapi jika itu ujian, maka bisa jadi itu ‘jamu’ yang menjadi obat untuk hidup lebih baik. Di sela kesibukannya berdakwah dan mengasuh pondok pesantren Tahfidz Qur’an, Darul Qur’an, di Kampung Ketapang, Cipondoh, Tangerang, dai muda ini bertutur tentang pengalaman hidupnya kepada wartawan Republika . Berikut petikannya.

Apa yang melatari Anda menjadi dai?
Awalnya saya menulis buku (Mencari Tuhan yang Hilang-red). Setelah itu, sering diminta melakukan bedah buku yang isinya tentang kehidupan terutama tentang pribadi saya. Pengalaman bedah buku di seminar dan forum itu, kemudian menjadi metode bertutur lewat kisah. Alhamdulillah, saya sadar betul bila Allah sudah memberikan jalan pilihan bagi saya untuk berdakwah. Target dakwah saya memang soal sedekah.

Jadi, memang sengaja memilih tema sedekah?
Ya, saya sadar betul memilih tema sedekah itu. Tujuannya, agar jamaah ikut bersedekah. Sebab, dengan jamaah bersedekah, artinya kita juga ikut sedekah. Ketika jamaah bersedekah, artinya itu merupakan sedekah kita juga.
Saya fokus di tema sedekah karena saya ingin bangsa ini berubah. Dulu saya menangis, karena kesusahan. Setelah ditemukan jawabannya ternyata sedekah. Ini kan benar-benar aneh dan ngawur. Orang susah kok disuruh sedekah. Tapi memang itu jawabannya. Saya ingin jamaah merasakan apa yang dirasakan pelaku sedekah.

Anda masih muda. Boleh tahu tantangan berat menjadi ustadz di usia muda?
Ya. ha.. ha..ha..,tantangannya itu saya kira off the record

Ada cara mengatasinya?
Ya, jangan terlalu dipikirin

Tantangan lainnya apa?
Kata orang tantangan bagi dai itu datang dari kalangan ustadz sendiri. Alhamdulillah, saya justeru dapat dukungan dari mereka.

Mengapa begitu, bagaimana resepnya?
Saya disupport, karena tema yang saya angkat menarik. Saya bicara soal sedekah yang dulunya orang jarang berani mengupas. Takut diangap tidak ikhlas atau riya. Ya, hadiah Allah yang melalui mulut saya, yang membuat sesuatu yang berbeda tentang sedekah ini.

Dengan jadwal yang padat, apa tak ada masalah dengan keluarga?
Itu tantangan berikut yang harus dihadapi para dai. Tantangan internal memang dari keluarga sendiri. Dalam hal waktu, saya pernah selama setahun tidak bertemu orang tua, istri dan anak serta saudara. Tapi, Alhamdulillah beliau-beliau serta mereka itu bisa memahami kondisi dan posisi saya sebagai ustadz. Mereka menyadari dan paham bila lebih banyak orang lain yang berjuang tanpa bisa melihat keluarganya. Merekalah para mujahid fi sabilillah. Kami masih mendingan, karena masih bisa pulang.

Ada pengalaman getir selama setahun tidak bertemu keluarga?
Memang ya. Saya sedih, sedang berada di tempat lain ketika ayah tiri saya meninggal sehingga tidak sempat melihat. Karena itu, pada tahun 2008 strategi dakwah akan saya ubah.

Strategi seperti apa?
Sebelumnya saya berdakwah personal. Nantinya bersifat kelembagaan atau institusional. Jadi, ada semacam sentra kuliah dengan merilis modul-modul kuliah atau modu-modul kajian. Kemudian men-ToT (Training on Trainer)-kan pada dai-dai muda lainnya. Di setiap sentra ada asatidz (ustadz-ustadz) yang sudah dibina untuk menyebarkan materi yang disiapkan.

Apakah model itu efektif?
Justru ini sangat efektif. Sebab, mereka bisa secara bebas waktu dan tempat menjalankan dan melaksanakan materi kita. Juga tak ada konsentrasi massa yang sangat banyak di satu tempat. Sebaliknya massa yang bisa disentuh dakwah lebih banyak. Hasilnya, menurut saya lebih efektif.
Kebetulan, kita akan menggelar road show ‘Kun fa Yakuun’ di seratus kota di Indonesia. Insya Allah kami akan jumpa dengan sekitar 19,2 juta orang dari 19 ribu majelis. Jika setiap majelis beranggotakann seratus orang berarti ada 19,2 juta orang. Itu hitungan sederhana yang tak akan tercapai jika saya keliling. Bayangkan kita keliling 19 ribu masjid, aduh..!

Jadi, tidak lagi menggunakan media massa?
Tidak begitu. Kita tetap memanfaatkan media massa sebagaimana sebelumnya. Hanya saja, intensitasnya dikurangi. Dulu saya memang memilih menggunakan televisi, radio dan internet. Ternyata semua itu mempunyai keterbatasan. Di antaranya, televisi dan radio itu bukan milik kita. Misalnya, ada orang yang hendak mengaji, jam 10.00 malam. Itu kan tidak bisa kita stel sesuai dengan keinginan kita sendiri. Nah, dengan modul-modul, asatidz di daerah tinggal menerangkan secara global. Detailnya bisa diperoleh lewat modul atau DVD yang bisa dilihat di tiap sentra.

Berapa target pendirian sentra pada 2008 ini?
Tahun ini kami targetkan 300 sentra dakwah. Awal tahun ini sudah ada 40 sentra di kawasan Jabodetabek, Jawa Timur, Jawa Tengah dan Banjarmasin, Kalimantan serta di Medan (Sumatra Utara). Februari ini akan dibentuk di Padang, Sumatra Barat.
Sentra dakwah juga bisa jadi roda penggerak ekonomi masyarakat sekitar. Bayangkan, bila saya pengajian di sana, banyak orang datang sehingga jamaah bisa buka usaha dengan menjual produk. Sentra juga bisa jadi pusat gerai hingga bisa jadi nilai tambah. Inilah, jika kita mengurusi jalan Allah, maka akan diberi jalan pula oleh Allah.

Tidakkah Anda jadi lebih sibuk?
Sebaliknya, waktu untuk keluarga akan makin banyak. Jika dulu, saya harus keliling kota di Indonesia, karena kita ditentukan oleh permintaan orang. Kini, tidak begitu. Dengan menggunakan modul-modul dan DVD itu kita bisa menentukan waktunya. Kita bisa menawar mengenai ketentuan waktu itu. Bahkan, saya sudah mulai mengurangi roadshow ke daerah. Jika dulu sepuluh kali roadshow sekarang lima atau mungkin tiga kali saja. Bahkan, bisa sekali sehari. Buktinya, tadi pagi (Sabtu/12/1) tadi saya bisa mengantarkan anak berlibur ke Ancol.
Waktu untuk bertemu keluarga, orang tua, mertua dan tetangga sudah cukup banyak. Dulu saya sempat dianggap sombong oleh tetangga. Karena, saat saya kembali ke rumah banyak tetangga yang ingin bertemu tapi waktu saya amat minim karena harus berangkat lagi.
Saya bilang ke mereka, kalau saya mau menemui istri dan memeluk serta mencium anak dulu. Eh, tetangga bilang saya berubah. Saya dicap sombong, belagu mentang-mentang sudah jadi ustadz. Padahal, saya tidak bermaksud begitu. Karena itu, akhirnya saya pikirkan bagaimana ada perpanjangan tangan untuk distribusi ilmu yang tidak ada masalah dengan persoalan waktu.

Sejak kapan hal ini direncanakan?
Kami mulai mengerem kegiatan awal 2007. Kami kurangi jadwal dari 10 kali sehari menjadi tiga kali dan sekali saja. Materi akan disesuaikan dengan pengalaman riil di tengah masyarakat. Saya punya materi-materi yang dimodulkan itu seperti ”Bagaimana Agar Gampang Bayar Hutang, Gampang Dapat Jodoh, Mudah Mendapat Pekerjaan, Bisa Mendapatkan Modal Tanpa Bayar.”
Dulu untuk berceramah, masyarakat mengundang saya datang ke tempat mereka. Sekarang tidak begitu. Mereka cukup datang ke sentra saja dan sudah ada perangkat multimedia dan media off print yang bisa diakses jamaah.

Masih sempat memproduksi sinetron?
Masih. Sekarang malah tambah bersemangat. Sebab, saya memproduksi sendiri sinetron-sinetron dakwah itu.

Anda berencana menulis buku lagi?
Setelah kami lahirkan tema-tema sedekah, saya juga akan menerbitkan The Miracle (Keajaiban) yang berisi kesaksian lengkap dengan hitung-hitunganya. Buku itu tentang sedekah dari tinjauan filosofis dan akademis.

Siapa yang mengilhami dan terlibat dalam pembuatan buku tersebut?
Sudah menjadi kewajiban saya, menyampaikan lewat lisan dan tulisan. Itu akan menjadi matakuliah yang pengikutnya jutaan. Sebab, akan kita upload langsung di web.
Tutorialnya lewat web yang on line 24 jam. Saya yakin belajar dari The Miracle itu akan mengetahui bagaimana kekuatan mahadahsyat sedekah yang datang dari Allah yang bekerja dengan efektif dalam kehidupan manusia.

Bagaimana perkembangan pesantren darul Qur’an, Wisata hati?
Alhamdulillah. Kalau melihat perkembangannya saya ingin menangis. Dulu saya hanya ingin keluar dari penjara dengan mengamalkan Alquran. Untuk itu, saya merintis pesantren. Pada 2003 saya pamit sama ustadz Basoni dan H Ahmad minta santri. Ketika 2004 ada delapan santri. Setelah itu itu berkembang sampai sekarang. Buat saya, pesantren itu adalah laboratorium. Bagi jamaah, saya bilang kalau mau dekat dengan Allah, ikut menanggung membantu santri di pesantren. Alhamdulillah dukungannya gila-gilaan. Sekarang ada donatur dari Semarang, Surabaya, Sulawesi, Sumatera dan lain sebagainya. Kami mau membangun pesantren dengan dana hampir Rp 200 miliar.

Matematika Kun Fa Yakuun
5+3=-2. Tidak selamanya hitung-hitungan matematika lima ditambah tiga sama dengan delapan. Boleh jadi hasil akhirnya minus dua jika manusia banyak melakuan tindakan yang haram.

”Memang ada matematika yang aneh. Yaitu bukan matematika manusia. Disebut aneh karena kita tidak belajar. Yaitu sepuluh dikurang satu, hasilnya bukan sembilan, tapi sembilan belas. Karena satu yang disedekahkan ke Allah, dikembalikan lagi oleh Allah sepuluh. Jadi praktis hasil akhirnya sembilan belas,” tandas Ustad Yusuf Mansur usai memberikan taushiah di Masjid Kompelks Pondok Pesantren Wisata Hati, Cipondoh Tangerang.

Matematika tidak linier itu menurut Yusuf Mansur harus dikampanyekan agar kehidupan bangsa lebih baik lagi ke depan. ”Kita sudah berhasil menyosialisasikan sedekah dan sekarang saatnya bicara soal dosa besar,” kata dai muda berusia 31 tahun itu.

Matematika aneh, kata dia, bisa menyelesaikan krisis bangsa. Dia bercerita soal kesaksian seorang siswi SMU di Makassar yang akan ujian dan ibundanya sedang sakit keras. Siswi itu berdoa dan berniat menyedekahkan seluruh uang di dalam celengannya. ”Doanya hanya satu, ia rela tidak lulus ujian asal ibunya sembuh.” Ibu siswi itu disembuhkan dari sakit dan ia juga lulus ujian.

Istimewa karena anak itu hanya punya satu kali permohonan. ”Kalau kita sedekahnya sekali, permohonannya borongan banyak banget.” Idealnya sedekah minimal 2,5 persen, Yang lebih afdol adalah 10 persen dari harta. ”Orang kita sering tidak adil. Minta disembuhkan penyakit jantung, yang jika operasi membutuhkan dana puluhan juta rupiah–hanya dengan sedekah Rp 100 ribu.”

Berbagi atau sedekah adalah tema sentral dakwah Yusuf Mansur. Meski banyak menerima kesaksian lewat SMS, tema dan pola dakwahnya digarap profesional dengan melibatkan tim. Sektiar 20 orang berada di ring satu, istilah Yusuf Mansur. ”Mereka bukan ajudah atau sekretaris karena saya tidak punya.” Yang paling dekat dengan dirinya adalah Ustadz Jamil dan Hendy Rochim.

Tak cukup dengan dakwah verbal dan personal, Ustad Yusuf pun menyampaikan misinya lewat blog, sinetron, lagu dan bahkan film. Sinetron Mahakasih yang diproduksi Sinemart menjadi tontonan yang ditunggu banyak pemirsa televisi karena cerita yang lugas, dan tidak menggurui dan tidak mengumbar kemewahan.

Belakangan ia merintis juga sebuah sekolah komersial Darul Quran International School yang menyasar kalangan menengah atas. Sinetron dan film produksinya seperti Kun Fa Yakuun, Mahakasih dan belakangan sebuah film dengan biaya produksi hingga Rp 6 miliar dengan bintang Agus Kuncoro, Zaskia Mecca dan Desy Ratnasari adalah juga menceritakan matematika tidak linier itu.

Yusuf Mansur
Lahir: 19 Desember 1976 (31 tahun) Pekerjaan: Pendiri Wisatahati Corporation/dakwah
Pendidikan: IAIN Jakarta
Karya:
Mencari Tuhan Yang Hilang (Buku)
Mahakasih (Sinetron)
Kun Fa Yakuun (Film dan Sinetron)





Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Text

My Blog List

Blogroll